Ini Wanda, Gadis Cilik yang Belajar Online di Sungai Gendol

Gadis cilik ini bernama Wanda Hera Kurniawati. Ia masih berusia 10 tahun dan saat ini duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Tepatnya di SDN Kepuharjo yang berada di lereng Gunung Merapi.

Pandemi COVID-19 membuatnya terpaksa harus belajar online. Namun, jalan terjal yang harus ia lalui untuk bisa belajar bukan hanya Corona. Kini, ia harus belajar di tengah bisingnya suara kenalpot truk, suara para penambang yang bersahut-sahutan serta debu yang beterbangan.

Ya, lokasi tempat belajar gadis yang bercita-cita menjadi dokter itu adalah di aliran sungai Gendol, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. Jaraknya diperkirakan sekitar 6-7 km dari puncak. Masih lebih jauh dari radius bahaya yang ditetapkan BPPTKG yaitu 5 km dari puncak Merapi.

Wanda masih sibuk mencatat saat detikcom menyambanginya kala belajar online atau daring. Di sebelahnya ada Sri Sutarti (27), ibunya yang mendampingi belajar sembari menambang pasir secara manual.

“Ini tadi habis pelajaran PPKN sama PJOK,” ujar Wanda saat dijumpai di aliran Sungai Gendol, Rabu (11/11/2020).

Baca Juga :  Mahasiswa Unnes Dikembalikan ke Orang Tua, Gegara Laporkan Rektor ke KPK?
Wanda dan ibunya. Foto: Jauh Hari Wawan S

Mata pelajaran tematik adalah favorit Wanda. Kurang lebih sejak awal pandemi Wanda pindah lokasi menimba ilmu di kawasan penambangan pasir Merapi. “Paling suka mata pelajaran tematik. Cita-cita mau jadi dokter,” katanya lirih.

Ia mengaku dengan kondisinya saat ini tetap masih bisa berkonsentrasi untuk belajar online. Bahkan ia masih mampu berprestasi di sekolah dengan masuk rangking 10 besar.

Loading...

Akan tetapi ia tetap merindukan sekolah. Tentu karena ia bisa bertemu dengan teman-temannya. “Tetap ingin bisa ke sekolah karena banyak teman,” ungkapnya.

Baca Juga :  Hebat! Kampus Ini Gelar Wisuda di Puncak Gunung Marapi

Apa yang dilakukan oleh Wanda tentu sangat berisiko. Sebab, tempat ia belajar adalah di Sungai Gendol yang notabene merupakan jalur bukaan kawah Merapi. BPPTKG pun menyebut jika potensi bahaya utama ada di Gendol.

Namun, ia tidak punya pilihan lain. Wanda tak bisa belajar sendiri. Ayahnya sibuk dengan pekerjaan lain. Di rumah hanya ia sendiri yang ada. Sehingga hanya ibunyalah yang bisa ia tuju untuk membantunya belajar online.

“Kalau belajar di rumah nggak ada yang nungguin,” kata ibunda Wanda, Sri Sutarti saat ditemui di lokasi yang sama.

Sutarti paham dengan risiko yang ia hadapi. Sebagai seorang penambang pasir manual di Sungai Gendol ia selalu was-was dengan kondisi Merapi. Mengajak putrinya ke Gendol juga punya risiko.

Baca Juga :  Mahasiswa Unnes Dikembalikan ke Orang Tua, Gegara Laporkan Rektor ke KPK?

Apalagi ia punya memori kurang mengenakkan tentang Merapi. Tepatnya saat erupsi 2006 dan 2010. “Trauma, ada. Apalagi kalau hujan deras. Tapi di sini sopir-sopir (truk tambang) yang bawa HT buat peringatan,” paparnya.

Namun, bagaimanapun ia punya tanggung jawab sebagai ibu dan harus mencari tambahan untuk nafkah keluarga. Terutama untuk mencukupi kebutuhan kuota saat pembelajaran daring.

“Saya di sini (menambang) dari pukul 6 pagi hingga 4 sore. Rumah jaraknya 1 km tapi kalau bolak-balik anaknya juga kasihan,” ucapnya.

“Kalau nambang muat pasir itu lima hari sekali, itu saya dapat Rp130 ribu, dibagi dua sama ibu saya yang ikut nambang. Kalau suami kerjanya merumput sama nggaduhke (merawat titipan) lembu tiga ekor,” sambungnya.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *