Mantap! Sarjana Psikologi Ini Pilih Jadi Petani Sayur

Pria muda bernama Faris ini senang berprofesi sebagai petani sayur. Lulusan sarjana psikologi ini bahkan bangga mengakui dirinya sebagai tukang sayur.

Faris membagikan kisahnya lewat video yang diunggah dalam Youtube Capcapung. Video berdurasi hampir 5 menit ini menampilkan Faris sibuk di kebun sayuran hidroponik yang dirawatnya.

“Awalnya karena saya melihat lahan sawah di Jogja sudah mulai berkurang. Terganti sama bangunan semua, lama-lama lahan sawah akan habis,” kata Faris membuka perbincangan. Dalam video ini Faris lebih senang menyebut dirinya sebagai tukang sayur.

sarjana psikologi jadi tukang sayur Foto: youtube capcapung

Sarjana psikologi yang juga sedang menempuh pendidikan magister psikologi ini sempat mengalami batu rintangan. Orang tuanya sempat melarang ia menjadi petani sayur.

Namun setelah dijelaskan, orang tua Faris akhirnya memahami.

“Saya menganggap diri saya tukang sayur. Awal bertani, orang tua marah. Apalagi sekarang lagi menempuh magister psikologi. Sempat berseteru dengan orangtua yang menentang, tapi akhirnya diizinkan,” ujar Fariz.

Baca Juga :  Guru Honorer di Pedalaman Flores Dua Tahun Tak Terima Gaji: Nasib Kami Belum Merdeka

Sang ayah hanya berpesan agar Faris serius terjun di dunia pertanian, dunia yang ia pilih. “Oke kalau kalu mau jadi petani, kamu harus serius menjalani hidroponik,” ujar Faris menirukan perkataan sang ayah.

Loading...
sarjana psikologi jadi tukang sayur Foto: youtube capcapung

Kebun sayur hidroponik milik Faris berada di tempat yang anti mainstream. Bukan di tanah kosong, Faris membuka kebun sayurnya di atas bangunan masjid.

Kebun sayur Faris ini mulai beroperasi sejak pertengahan tahun 2017.

Meskipun areanya cukup terbatas, Faris bisa memaksimalkan lahan ini. Ia bisa menanam berbagai sayuran hidroponik mulai dari kangkung, bayam merah, caisim, pokcoy dan selada.

Baca Juga :  Empat Mahasiswa ITS Ciptakan Alat Pendeteksi Pasien COVID-19

“Kangkung bahkan bisa panen dalam 2 minggu setelah tanam, sangat cepat pertumbuhannya,” ujar Faris.

Dari kebun sayurnya ini Faris bisa menghasilkan sekitar Rp 1,5 juta per bulan. Hasil panen sayuran hidroponik ini tidak langsung dijual ke supermarket, restoran atay hotel.

Faris justru menjual sayuran segar ini pada pedagang sayur di pasar.

Menurutnya, semua masyarakat berhak dan layak mendapatkan sayuran sehat. “Saya bangga jadi petani, cita-cita saya mengajak petani Indonesia agar lebih up to date mengikuti perkembangan. Saya harap tidak ada anak muda yang takut megang cangkul, bersentuhan dengan tanah atau nyemplung ke sawah,” beber Faris di akhir video.

Baca Juga :  Siswa Miskin Jual Ayam Satu-satunya demi Beli HP untuk Belajar Online

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *