Curhat Warga Desa di Mojokerto BLT-nya Dipotong Rp 500 Ribu

Pencairan bantuan sosial tunai dari dana desa (BST DD) di Desa Kepuhanyar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto dikeluhkan sebagian warga.

Pasalnya, bantuan bagi warga miskin terdampak wabah virus Corona itu dipotong Rp 500.000 per penerima untuk dibagi rata.

Pemotongan BST DD terjadi di Dusun Wonoayu, Desa Kepuhanyar. Di dusun ini terdapat 16 kepala keluarga (KK) yang menerima bantuan selama tiga bulan, yakni mulai Mei sampai Juli 2020. Mereka berhak menerima Rp 600.000 setiap bulan.

Pemotongan BST DD untuk pemerataan salah satunya dikeluhkan WN (62), warga Dusun Wonoayu. Sebelum virus Corona mewabah, duda dua anak ini menjadi tukang becak dan pedagang asongan di Terminal Kertajaya. COVID-19 yang merebak sejak Maret lalu membuatnya tak bisa mencari nafkah.

“Sejak ada Corona, saya tidak bisa bekerja sampai sekarang. Makan dari beras zakat sebelum lebaran saya kumpulkan 30 Kg, zakat uang Rp 330.000,” kata WN kepada wartawan di Dusun Wonoayu, Kamis (25/6/2020).

Pada 19-20 Mei lalu, WN bisa bernafas lega. Karena dia menjadi salah satu penerima BST DD dari Pemerintah Desa Kepuhanyar. Bantuan tunai Rp 600.000 itu setidaknya menjadi bekal keluarganya untuk bertahan hidup di tengah pandemi Corona.

Baca Juga :  Kisah Seorang Mualaf, 2 Tahun Salat Diam-diam Hingga Nyaris Dicoret dari KK

Namun, harapannya seketika sirna saat tahu uang tersebut dipotong Rp 500.000. “Saya ambil di balai desa Rp 600.000. Tiga hari setelahnya dipotong Rp 500.000, ada orang yang mengambil ke rumah. Saya hanya dapat Rp 100.000,” ungkapnya.

Loading...

Rupanya pemotongan BST DD tidak hanya dialami WN. Menurut dia, pada malam sebelum pencairan, puluhan warga Dusun Wonoayu rapat di balai dusun.

Mereka sepakat bantuan yang diterima 16 KK di kampung ini masing-masing dipotong Rp 500.000.

“Alasannya akan dibagikan ke warga yang belum dapat bantuan untuk pemerataan. Dibagi Rp 75 ribu per KK. Karena semuanya diam saat rapat, saya sungkan mau protes sendiri,” terangnya.

Uang potongan BST DD dari 16 KK di Dusun Wonoayu jika dikumpulkan menjadi Rp 8 juta. Dana potongan tersebut setidaknya disalurkan ke 106 KK kalau benar-benar dibagi merata.

Karena setiap keluarga menerima bagian Rp 75.000.

Tidak hanya itu, WN juga mengeluhkan pencoretan namanya dari daftar penerima BST DD Desa Kepuhanyar tahap kedua. Dia tidak lagi menerima surat undangan dan surat pernyataan belum menerima bantuan apapun dari pemerintah saat BST dicairkan, Selasa (23/6).

Baca Juga :  Kisah Kadir Jualan di Sekolah demi Bantu Ekonomi Orangtua

Dia harus gigit jari saat warga lainnya menerima bantuan Rp 600.000 seperti bulan Mei.

“Saya sudah menemui Pak Kades untuk menanyakan kenapa saya tidak dapat bantuan lagi. Kata Kades ada perubahan data pada tahap kedua. Kemungkinan jatah saya dialihkan. Padahal, awalnya saya dijanjikan Rp 600 ribu tiga kali selama tiga bulan. Saya baru menerima satu kali sudah diputus,” jelasnya.

Indikasi pemotongan BST DD juga kembali terjadi di Dusun Wonoayu bulan ini. Warga setempat yang meminta namanya dirahasiakan menuturkan, bantuan yang diterima warga dipotong Rp 100.000. Sehingga mereka menerima Rp 500.000.

Kepala Dusun Wonoayu Kasun Teguh Murjoko (51) menampik adanya pemotongan BST DD tahap kedua yang dicairkan pada Selasa (23/6).

Dia mengaku hanya meminjam uang Rp 100.000 dari Winarsih, salah satu penerima bantuan. Uang tersebut dia gunakan untuk mengganti biaya materai pada 16 surat pernyataan belum menerima bantuan apapun dari pemerintah.

Baca Juga :  Tersentuh Dengarkan Teman Satu Sel Mengaji, Dua Napi Lapas Pasuruan Jadi Mualaf

“Saat itu saya kembalikan ke Bu Winarsih, beliau tidak mau. Kalau Bu Suparti memberi saya Rp 50.000 sebagai tanda terimakasih. Saya tolak, tapi dia memaksa. Sedangkan Pak Sujud memberi saya rokok sebungkus,” tegasnya.

Teguh membenarkan BST DD bagi 16 KK warga Dusun Wonoayu pada Mei lalu dipotong masing-masing Rp 500.000. Namun dia menegaskan, pemotongan bantuan bagi warga terdampak wabah virus Corona itu bukan kehendak dirinya.

“Seminggu sebelum pencairan bulan Mei, warga datang ke balai dusun meminta bantuan dibagi rata. Yang mengambil ke rumah para penerima adalah orang yang ditunjuk warga sendiri. Akhirnya dibagi rata masing-masing Rp 75.000. Penerima asli dapat Rp 100.000,” ungkapnya.

Teguh menambahkan, Dusun Wonoayu dihuni 156 KK. Dari jumlah itu, 76 KK tergolong berhak menerima bantuan karena terdampak pandemi Corona.

Sebagian besar keluarga miskin tersebut sudah menerima bantuan dari pemerintah.

“Yang sampai sekarang belum dapat bantuan apapun 16 KK. Belum ada peluang mau duajukan ke bansos apa,” tandasnya.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *