Beratnya Perjuangan Mahasiswa di Mamasa, Naik-Turun Gunung demi Kuliah Online

Beratnya Perjuangan Mahasiswa di Mamasa, Naik-Turun Gunung demi Kuliah Online

Penutupan sejumlah kampus perguruan tinggi akibat pandemi virus Corona hingga saat ini masih berlangsung. Aktivitas perkuliahan yang biasanya dilakukan secara langsung, diganti dengan tatap muka secara online.

Pelaksanaan perkuliahan secara online tentunya bukan masalah bagi mahasiswa atau mahasiswi yang tinggal di kota besar, atau yang daerahnya terjangkau jaringan internet. Namun tidak bagi mahasiswa yang tinggal di pedalaman.

Mahasiswa di Mamasa berjuang demi mengikuti kuliah online. (Abdy/detikcom)

Misalnya yang dialami belasan mahasiswa dan mahasiswi dari sejumlah perguruan tinggi di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, yang tinggal di pedalaman Kecamatan Rantebulawan Timur, Kabupaten Mamasa.

Mereka terpaksa menempuh medan berat hingga ke puncak gunung untuk mencari jaringan demi mengikuti perkuliahan online lantaran desa mereka belum terjangkau jaringan internet.

Loading...

Salah satunya Nur Karunia, mahasiswi salah satu perguruan tinggi kesehatan di Makassar. Nur Karunia terpaksa menempuh perjalanan selama satu jam, melewati jalan berlumpur hingga menapaki kawasan hutan untuk ke puncak gunung di Desa Kirak, demi mendapatkan jaringan internet melalui telepon genggam.

“Tantangan berat itu harus kita lalui, agar bisa tepat waktu mengikuti perkuliahan dan tidak dinyatakan alpa oleh dosen,” kata Nur Karunia, kepada wartawan, Minggu (10/5/20).

Menurut dia, puncak gunung di Desa Kirak merupakan satu-satunya tempat terdekat dari kampung halaman, yang dapat dijangkau para mahasiswa di daerah ini untuk mendapatkan jaringan.

Untuk itu, sebuah tenda darurat disiapkan agar para mahasiswa mengikuti perkuliahan dengan nyaman saat berada di puncak gunung. Layaknya sebuah ruangan, di bawah tenda berbahan terpal, para mahasiswa berjejer rapi, menggantungkan telepon genggam mereka pada tiang bambu berukuran kecil.

Jika cuaca sedang bagus, tidak sedikit mahasiswa yang memilih berkumpul di bawah pepohonan lantaran tenda darurat yang disiapkan tidak mampu menampung semua mahasiswa yang sedang berburu jaringan. Sebaliknya, saat hujan mengguyur, para mahasiswa ini harus rela kehujanan untuk mengikuti kuliah online.

Bersama mahasiswa lainnya, Nur Karunia berharap pemerintah menyiapkan fasilitas jaringan internet agar mereka dapat mengikuti perkuliahan secara online di tempat yang lebih nyaman dan dekat dengan kampung halaman.

loading...

“Kampus saya aplikasi yang digunakan, Adlink dan Zoom, suka-dukanya banyak sekali, mulai dari perjalanan, mendaki gunung, susah sekali, biasa kalau hujan terlambat datang di sini kita biasa alpa,” ungkap Nur Karunia.

“Kami sangat berharap ada fasilitas jaringan yang terjangkau agar kita bisa mengikuti perkuliahan dari rumah, karena kalau COVID ini terus berlanjut kita akan kesulitan, apalagi hanya di sini kami bisa mengikuti kuliah online, akhirnya kerap menyebabkan orang berkerumun,” pinta Nur Karunia. [dtk]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *